Kamis, 26 Juli 2012

Analisis Citra

CITRA WANITA TOKOH UTAMA NOVEL JEPUN NEGERINYA HIROKO 
KARYA N.H. DINI

                                                               Oleh: Sri Widayati






   

  Pembahasan mengenai citra wanita dalam kesusastraan pada saat ini mendapat perhatian yang cukup besar. Pembicaraan tentang wanita sebagai salah satu anggota kelompok masyarakat merupakan kajian sastra yang cukup sering dibicarakan. Hal ini berkaitan dengan perubahan dalam memandang masalah ini sesuai perubahan nilai-nilai dan moralitas mereka yang memberi penilaian. Sekalipun nantinya terdapat perbedaan atau persepsi dalam penilaian, hal itu merupakan konsekuensi dari nilai-nilai yang dianut. Perkembangan atau perubahan nilai-nilai dalam masyarakat ini sedikit banyak menyebabkan perubahan dalam menampilkan tokoh-tokoh dalam karya sastra, khususnya tokoh wanita. Bagaimanapun juga karya sastra yang mencerminkan selera dan aspirasi  suatu kelompok masyarakat tertentu merupakan gejala yang selalu ada pada setiap zaman, sepanjang sejarah kesusasteraan. Gejala tersebut tentu saja dapat mengakibatkan perkembangan yang positif bagi dunia sastra.
Dalam analisis yang memfokuskan pada tokoh wanita, dipilih novel   Jepun Negerinya Hiroko. Novel yang menjadi objek kajian  ini ditulis oleh seorang pengarang wanita yaitu N.H. Dini.Untuk membahas masalah citra wanita pada novel tersebut dipergunakan kritik feminisme.
Kritik sastra feminisme merupakan studi sastra yang mengarah fokus analisis tentang perempuan (Sofia, 2003:23). Arti kritik sastra feminisme adalah sebuah kritik yang memandang sastra dengan kesadaran khusus akan adanya jenis kelamin yang berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan manusia. Jenis kelamin membuat perbedaan di antara semuanya, perbedaan di antara diri pencipta, pembaca, dan faktor luar penulisan dan pembaca sastra,
            Kritik sastra feminisme bukan berarti pengkritik perempuan, atau kritik tentang perempuan, juga bukanlah kritik tentang pengarang perempuan. Arti sederhana yang dikandungnya adalah pengkritik memandang sastra dengan kesadaran khusus, kesadaran bahwa ada jenis kelamin  yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan. Membaca sebagai perempuan berarti membaca dengan kesadaran membongkar praduga dan ideologi kekuasaan laki-laki yang androsentris atau patriarki. Perbedaan jenis kelamin pada diri pencipta, pembaca, unsur karya, dan faktor luar itulah yang memengaruhi situasi sistem komunikasi sastra. Penggunaan berbagai teori feminisme diharapkan mampu memberikan pandangan-pandangan baru, terutama yang berkaitan dengan bagaimana karakter-karakter yang diwakili dalam karya sastra.

 Citra Wanita Tokoh Utama Novel Jepun Negerinya Hiroko

Untuk mengetahui citra wanita pada novel  Jepun Negerinya Hiroko dipergunakan analisis kritik sastra feminis. Kata ’citra’ dalam analisis ini mengacu pada pengertian semua wujud gambaran mental sipritual dan tingkah laku keseharian wanita yang menunjukkan ’wajah’ dan ciri khas wanita (Sugihastuti, 2000:7).
            Pada point ini citra tokoh yang dibicarakan adalah citra tokoh utama, yaitu Dini. Hal ini dilakukan karena novel ini semacam diari dari tokoh aku (Dini). Sebagai diari, novel ini banyak mengungkapkan perjalanan hidup sang tokoh dalam mengarungi bahtera kehidupannya. Sang aku yaitu Dini banyak memaparkan perjalanan hidupnya setelah menikah dengan diplomat asing yang berasal dari Perancis. Liku-liku kehidupannya bersama suaminya, Yves Coffin, memberi gambaran yang jelas tentang citra dirinya sebagai seorang istri sekaligus sebagai seorang ibu.
Dalam analisis ini akan diuraikan citra wanita tokoh utama yang meliputi citra dalam aspek fisik dan aspek psikis. Begitu juga akan diuraikan citra sosial tokoh tersebut, terutama citranya dalam keluarga dan masyarakat

a.Citra Diri Dini
Secara fisik Dini dicitrakan sebagai seorang wanita dewasa dengan usia 24 tahun, dia seorang wanita yang telah siap untuk berumah tangga. Hal ini ditandai dengan kesiapannya untuk menikah dengan dilpomat asing dari Perancis yaitu Yves Coffin.Sebagai wanita dewasa,  Dini sudah mempunyai pemikiran yang matang tentang risiko perkawinannya dengan orang asing. Misalnya, risiko penanggalan kewarganegaraan Indonesianya dan mengikuti kewarganegaraan suaminya.  Risiko lain adalah jauh dari orang tua maupun sanak keluarganya.
Citra fisik lainnya yaitu, Dini memiliki warna kulit sawo matang seperti warna kulit bangsa Indonesia umumnya. Wajahnya selalu kelihatan berseri dan pakaian yang dikenakan  selalu cocok dengan bentuk tubuhnya. Postur tubuh, pada dasarnya tidak dideskripsikan secara rinci. Hanya dari tuturan Yves Coffin sebelum keberangkatan Dini untuk menyusul calon suaminya yang ditugaskan di Jepang, Yves sempat berpesan pada Dini untuk membeli celana panjang di Hongkong. Hal ini dikarenakan celana panjang yang dijual di Jepang banyak yang tidak sesuai dengan postur orang Indonesia umumnya. Artinya, perbandingan antara bagian tubuh atas dan bawah seringkali tidak proposional.     Mengenai wajah, secara implisit dapat dikatakan bahwa Dini seorang wanita yang cantik, menarik, dan memesona. Dikatakan demikian, karena seorang diplomat asing pasti memilih calon istri yang dapat mendampingi dirinya dalam berbagai acara. 
Aspek psikis wanita tidak dapat dipisahkan dari apa yang disebut feminitas. Prinsip feminitas ini oleh Yung (dalam Sugihastuti, 2000:95) disebut sebagai sesuatu yang merupakan kecenderungan yang ada dalam diri perempuan; prinsip-prinsip itu antara lain menyangkut ciri relatedness, receptivity, cinta kasih, mengasuh berbagai potensi hidup, orientasi komunal, dan memelihara hubungan interpersonal.
  Secara psikis, Dini dicitrakan sebagai sosok pribadi yang baik, cerdas, mempunyai pengetahuan yang luas, mempunyai hobi menulis, terutama menulis prosa. Hobi menulis ini yang kemudian melambungkan namanya sebagai penulis yang sangat produktif di Indonesia. Citra Dini inilah yang membuat seorang Yves, seorang diplomat asing tertarik dan kemudian memintanya untuk menikah dengannya. Dini tidak mungkin menjadi istri seorang diplomat seandainya dia tidak mempunyai kepribadian yang baik serta pengetahuan yang luas. Karena untuk menjadi istri seorang diplomat, Dini harus melewati beberapa tes yang dilakukan oleh konsul Perancis yang ada di Indonesia.
Dini lolos tes untuk menjadi calon istri seorang diplomat. Dia kemudian menyusul calon suaminya yang ditugaskan di Jepang dan kemudian menikah di sana. Pernikahannya dengan Yves, ternyata tidak seindah yang ia bayangkan karena Yves menunjukkan sifat-sifat kontradiktifnya.Yves yang pada masa berpacaran menunjukkan sikap yang baik dan  selalu memanjakan Dini, setelah menikah menunjukkan watak aslinya. Yves mempunyai sifat yang jelek seperti kemarahannya yang tiba-tiba dengan cara berteriak, sifat keras kepalanya untuk mengharapkan pujian dalam semua bidang. Bahkan, urusan masak-memasak dan urusan rumah tangga pun selalu ia campuri hingga detilnya (hl.9). Sebagai seorang wanita Jawa, Dini  dididik untuk tidak terlalu banyak bicara, apalagi membantah orang tua ataupun suami. Didikan ini tertanam begitu kuat sehingga ketika menghadapi sikap Yves yang sangat kontradiktif, Dini menerimanya dengan penuh kesabaran.  Dini sadar bahwa perkawinannya dengan Yves adalah kehendaknya sendiri sehingga ia harus menerima dan menjalani dengan penuh kerelaan.  
Citra Dini sebagai istri yang sabar dapat ditunjukkan pula dengan berbagai masalah yang dihadapi serta perlakuan-perlakuan yang tidak menyenangkan yang diperoleh dari Yves. Misalnya, ketika Dini mendapat musibah terjebak dalam lift salah satu supermarket di Jepang, Yves sama sekali tidak menunjukkan kekhawatirannya. Bahkan, Yves tidak bersyukur istrinya selamat, padahal saat itu Dini sedang mengandung anak pertama mereka. Ketidakpedulian Yves terhadap Dini tidak sebatas itu saja, tetapi juga saat- saat ada orang ketiga di antara mereka. Misalnya, ketika ada tamu atau orang yang hadir di tengah-tengah mereka maka perhatian Yves tercurah semuanya kepada orang tersebut. Sikap Yves yang demikian itu selalu dihadapi Dini dengan kesabaran yang luar biasa.
Meskipun Dini dicitrakan sebagai wanita yang penuh kesabaran, sesekali waktu kesabarannya juga teruji dengan peristiwa-peristiwa yang tidak dikehendaki. Selama mengandung Dini mencoba untuk membungkam dan menahan perasaan terhadap sikap-sikap Yves yang sering menyakitkan.  Namun, setelah dia melihat Yves pergi dengan wanita lain, dia tidak lagi mampu mempertahankan kesabarannya. Dini merasa baru kali itulah dia menderita kerisauan yng menindih dan sangat membebani dadanya. Sakit hati dan kemarahannya tidak terbendung lagi. Menghadapi kemarahan Dini, Yves hanya bersikap biasa saja. Yves sebagai suami tidak memahami perasaan seorang wanita, terutama perasaan Dini. Ketidasadarannya akan hal ini membuat Dini semakin sengsara. Peristiwa ini menyadarkan Dini bahwa pada dasarnya dia tidak bisa selamanya menjadi wanita yang tegar    
Sifat pelit yang dimiliki Yves juga merupakan masalah yang sangat menguji kesabaran Dini. Setiap akhir bulan, Yves selalu memeriksa buku pengeluaran belanja rumah tangga sehingga tidak mudah bagi Dini untuk membeli sesuatu yang baru. Saat anak mereka lahir dan memerlukan susu tambahan, Yves sangat keberatan karena susu tambahan yang mereka beli dirasa terlalu mahal. Untuk mengatasi hal itu, Dini terpaksa harus putar otak. Supaya gizi terpenuhi, Dini terpaksa meramu sendiri asupan untuk anaknya, Lintang. Tidak sampai di situ saja Dini terpaksa harus secara sembunyi-sembunyi membelikan susu untuk  Lintang. Hal  ini memperlihatkan bahwa Dini sebagai seorang ibu sangat bertanggung jawab. Ia tidak mau anaknya kurang gizi hanya karena Yves tidak mau membelikan susu. Akhirnya Dini melakukan  apa saja untuk kesehatan anaknya.
Perhatian Dini terhadap anaknya sebenarnya sudah dilakukan sejak anaknya dalam kandungan. Dini selalu mengajak berbincang-bincang meskipun sang anak belum lahir. Ternyata apa yang dilakukan Dini sangat berpengaruh terhadap sang anak di kemudian hari. Dalam usianya yang baru dua bulan, sang anak sudah pandai ’mengoceh’. Di sini terlihat citranya sebagai seorang ibu patut ditiru karena dia telah melakukan   pendidikan  sejak anak masih dalam kandungan.
Meskipun Dini sudah tinggal di Jepang, ia tidak pernah meninggalkan budaya Jawa. Misalnya, ia melaksanakan ’cande ala’ yaitu membawa atau mengajak anak masuk ke dalam rumah saat senja datang. Untuk hal yang berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan ritual yang dilakukan Dini, Yves tidak pernah mengkritik  Ritual Jawa yang juga masih dilakukan Dini adalah saat anaknya masih bayi yaitu dia selalu menyelipkan pisau lipat atau gunting kecil di bawah bantal atau sprei yang konon dipakai sebagai tambahan penjaga anak saat si anak ditinggal si ibu. Tradisi Jawa lainnya yang masih dijalani Dini adalah tedhak siti (turun ke tanah). Tedhak siti dilakukan Dini pada saat usia Lintang mencapai tujuh bulan. Jadi, saat itu Lintang diturunkan kemudian dia disuruh mengambil salah satu benda yang ditaruh di tanah. Menurut tradisi Jawa, barang yang diambil si anak akan menggambarkan sifat atau pekerjaan si anak di kemudian hari.
Membuat bubur merah dan putih yang juga merupakan tradisi Jawa masih sering dilakukan oleh Dini. Misalnya, setelah pernikahannya dengan Yves juga saat lintang lahir maupun saat Lintang tedhak siti. Beberapa tradisi jawa yang masih dilakukan Dini menunjukkan bahwa dia masih mempertahankan citranya sebagai orang Jawa meskipun dia tinggal di negri asing.
Sebagai istri seorang diplomat pada dasarnya Dini juga ingin berpenampilan menarik. Misalnya, dengan memakai pakaian atau asesoris yang menarik dan pantas, tetapi karena sifat pelit Yves, Dini terpaksa harus meminjam atau bertukar pakaian dengan Bu Miskun (istri diplomat yang juga bertugas di Jepang). Kondisi ini semakin memperjelas citra Dini sebagai istri yang nrimo. Usahanya untuk menegur  sikap Yves tidak pernah berhasil karena dengan orang di rumahnya, dia harus menang. Yves harus didengarkan dan diikuti pendapatnya.   
Dini tidak saja digambarkan sebagai istri dengan citra yang baik, tetapi juga   digambarkan  sebagai seorang wanita yang mempunyai citra seni yang tinggi. Dia tidak saja   mempunyai ketertarikan di bidang seni sastra, tetapi juga seni-seni yang lain seperti seni tari, seni drama. Bakatnya di bidang sastra tetap dikembangkan meskipun dia sudah berkeluarga. Beberapa novel sempat dibuatnya dengan berlatar Jepang, misalnya Namaku Hiroko. Novel tersebut terwujud berkat kepiawainnya di bidang tulis menulis. Dia juga menyukai seni drama dan seni tari. Di Jepang seringkali Dini menyempatkan diri menonton Kabuki yaitu sebuah pertunjukkan rakyat kuno yang kemudian digarap secara modern, namun tetap mempertahankan pakem tertentu. Kabuki  merupakan tontonan yang  semuanya dipentaskan oleh para aktor laki-laki.
Dini tidak saja tertarik pada dunia seni tari, bahkan dia mampu menari beberapa tarian Jawa. Pada suatu ketika secara spontan Dini diminta untuk menarikan tari lilin, permintaan itu sempat ditolaknya karena dia belum pernah menarikan tari itu. Namun, karena dipaksa, ia melakukannya juga.  Ternyata Dini mampu menarikan tari lilin dengan baik. Ini membuktikan bahwa Dini mempunyai apresiasi yang baik terhadap seni tari.
 Pernah pada pertunjukan amal, Dini menarikan tari Golek Lambangsari. Tarian tersebut oleh para konsul dan perwakilan  dagang asing maupun Jepang yang hadir pada saat itu ditaksir dengan harga tinggi. Kala itu banyak yang memuji tarian Golek Lambangsari yang dibawakan oleh Dini, tetapi tidak bagi Yves. Yves justru mengkritik dan tidak menyambutnya dengan baik seperti halnya orang lain.  Menghadapi sikap Yves yang demikian itu Dini tetap tabah dan sabar. Bahkan dengan sadar dia mengatakan bahwa maskipun Yves mempunyai banyak kekurangan, namun dia bukan lelaki yang jahat. Dia hanya menjengkelkan untuk diajak sealur dengan cara hidup yang disukainya. Dini justru beranggapan bahwa mungkin karena sifat-sifatnya yang terlalu peka sajalah maka dia belum menerima kebiasaan-kebiasaan Yves (hl. 293).
Meskipun Dini sudah mengklaim bahwa Yves bukan orang jahat, Yves di berbagai hal tetap tidak suka melihat kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh Dini. Bahkan dia tidak pernah mendukung kegiatan positif yang dilakukan oleh Dini. Misalnya, Dini harus sembunyi-sembunyi untuk melakukan kegiatan kreatifnya yaitu menulis novel. Misalnya, Namaku Hiroko adalah novel yang ditulis oleh  Dini saat-saat Yves berada di kantor. Bahkan, Dini harus berpura-pura sakit supaya dia mempunyai kesempatan  yang banyak untuk menulis.Yves tidak pernah membiarkan Dini mempunyai waktu luang untuk menulis. Bahkan, Dini pernah merasa terhina ketika Yves mengatakan bahwa tulisannya tidak dapat dijual. Dini pun sadar bahwa Yves secara tidak langsung telah menekan kegiatan intelektual yang dilakukannya. Perlakuan Yves yang selalu mengecilkan eksistensi Dini, dihadapi  Dini dengan penuh kesabaran.
            Dini dicitrakan juga sebagai wanita yang tidak pernah mau diam. Dia selalu mengisi waktu luangnya dengan berbagai kegiatan. Dini mengatakan bahwa waktu luangnya banyak digunakan untuk menyerap semua pengalaman dan pengetahuan yang tersaji. Hal-hal yang dilakukannya antara lain: membaca, menonton film, menelusuri kota Kobe dengan cara naik bis, naik trem, atau berjalan kaki. Oleh karena itu, pengetahuannya tentang kota Kobe melebihi suaminya. Ia juga belajar bahasa Jepang. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, dia sudah mampu berbicara dengan bahasa itu. Hal ini menandakan bahwa Dini mempunyai citra sebagai wanita yang cerdas.
            Kegiatan lain yang dilakukan Dini adalah belajar merangkai bunga (ikebana). Dengan kepekaannya, dia mampu menyerap secara cepat prinsip-prinsipyang ada pada seni ikebana. Belajar memasak makanan Perancis, belajar menngunakan mesin jahit, menyulam juga merupakan kegiatan yang dilakukan saat-saat menunggu kelahiran anak pertamanya. Menulis novel adalah kegiatan yang tidak pernah ia tinggalkan. Hal ini ia lakukan untuk menunjukkan kepada orang-orang Indonesia bahwa meskipun sudah tinggal jauh, ia masih eksis di dunia itu
Dari  penjelasan  mengenai aspek fisik dan psikis di atas maka dapat diperoleh citra Dini sebagai berikut. Ditinjau dari aspek fisik, Dini adalah wanita yang aktif dan dinamis.  Ia seorang wanita yang cantik . Kecantikan Dini inilah yang membuat Yves kemudian menikahinya. Kemudian secara psikis, Dini seorang wanita yang cerdas, pandai, sabar, dan tabah. Kecerdasan dan kepandaian yang dimiliki Dini mendorongya untuk menjadi penulis karya sastra yang terkenal sampai saat ini. Namun, kepandaian ini yang kadang-kadang membuat Yves menjadi iri. Rasa iri Yves terhadap Dini sering dirtunjukan dengan sikap Yves yang menyakitkan. Dengan kesabaran luar biasa Dini menghadapi itu semua.

b. Citra Sosial Dini
Kecerdasan serta kemampuan Dini dalam berbagai bidang menuntunnya ke pergaulan yang luas. Kemampuannya menulis sastra, misalnya, mendekatkan dirinya kepada nama-nama yang tidak asing di negeri ini, seperti H.B. Jassin, Ayip Rosidi. H.B. Jassin dikenal sebagai kritikus sastra Indonesia, sedangkan Ayip Rosidi adalah sastrawan Indonesia. Sebagai sesama orang yang bergerak di bidang sastra, Dini mampu menjalin hubungan yang baik dengan mereka. Bahkan, ketika Dini sudah tidak lagi tinggal di Indonesia, hubungan dengan sesama sastrawan masih tetap berlanjut melalui surat.
Tidak terputusnya hubungan Dini dengan H.B. Jassin atau Ayip Rosidi dikarenakan dia tetap meneruskan aktivitasnya sebagai seorang penulis. Meskipun kegiatan ini tidak didukung oleh suaminya, Yves, Dini tetap jalan terus dan pantang mundur. Namaku Hiroko adalah salah satu novel dari Dini yang cukup terkenal yang ditulisnya dengan cara sembunyi-sembunyi.
 Lingkungan baru, tidak membuat Dini menjadi asing karena dia mampu beradaptasi secara cepat, baik dengan lingkungan masyarakat maupun lingkungan alam.Dini tidak saja mampu menjalin hubungan baik dengan orang-orang Indonesia, tetapi juga dengan orang-orang di lingkugan barunya yaitu  orang-orang Jepang. Bahkan, ada wanita Jepang  yang begitu dekat sehingga sangat spesial bagi Dini, dialah Hiroko. Perjalanan hidup Hiroko kemudian menjadi sumber inspirasinya, bahkan dia dijadikan tokoh utama untuk novelnya yang berjudul Namaku Hiroko. Selain Hiroko, Dini menjalin keakraban yang luar biasa dengan Mireille, wanita asal Pulau Korsika. Bagi Dini, Mireille adalah sahabat seumur hidupnya.    
Dini juga menjalin hubungan yang baik dengan para istri diplomat Indonesia yang bertugas di Jepang yang di antaranya adalah Mbakyu Miskun dan Tante Un. Mereka berdua juga sahabat Dini yang begitu dekat. Karena begitu dekat, Dini tidak segan   melakukan persetujuan untuk saling meminjamkan pakaian, sepatu, dan sandal dengan Mbakyu Miskun. Perjanjian ini dilakukan Dini karena sebagai  istri seorang diplomat, dia  ingin berpenampilan baik dan menarik.Untuk berpenampilan selalu menarik diperlukan uang yang banyak dan Dini tidak pernah diberi uang lebih oleh Yves. Uang yang diberikan oleh Yves hanya cukup untuk makan saja. Kepelitan Yves diketahui oleh sahabat-sahabatnya sehingga mereka mau membantu Dini.
Dini perlu selalu berpenampilan menarik saat dirinya ditunjuk untuk menggantikan posisi isti konsul yang akan bepergian ke Eropa. Sebagai istri diplomat, Dini mampu melaksanakan kewajiban sosial yang diberikan oleh seorang isti konsul yang pergi untuk waktu yang tidak ditentukan. Kewajiban yang harus dilaksanakan adalah mengunjugi rumah-rumah yatim piatu, panti jompo, yang ada hubungannya dengan pemerintah Perancis. Pekerjaan ini dapat dikerjakan Dini dengan baik karena dia mampu dengan cepat melakukan pendekatan-pendekatan dengan lingkungannya.    
Tante Un juga merupakan sahabat Dini yang sangat dekat. Dini tidak segan-segan menitipkan anaknya untuk beberapa hari pada Tante Un saat dia pergi jauh. Untuk  kebaikan sahabat-sahabatnya itu, Dini tidak pernah lupa untuk  membawakan bingkisan. Di sisi lain, ada beberapa orang yang tidak bisa dekat dengan dirinya. Misalnya, wanita yang di mata Dini terlalu menonjolkan segi materinya atau orang yang  di mata Dini tidak pernah membalas kebaikan orang lain.  
Dari uraian di atas tergambar citranya sebagai wanita yang pandai berterima kasih, pandai bergaul, dan pandai memahami orang lain. Namun,  kebaikan Dini kadang-kadang dimanfaatkan oleh orang lain, seperti yang dilakukan oleh seorang temannya di Bukit Tinggi  yang tanpa seizin Dini telah memproses pencetakan Hati Yang Damai, sebuah karya yang ditulis Dini saat dirinya masih remaja. Harga dirinya merasa diinjak-injak saat orang yang menerbitkan buku itu mengatakan bahwa justru Dinilah yang harus berterima kasih kepadanya. Penerbitan buku itu bagi Dini justru tidak memberikan kedamaian bagi dirinya karena dia sudah merasa terlangkahi. Hak-haknya sebagai penulis seolah-olah diabaikan.
Hubungan Dini dengan lingkungan keluarga, terutama kelurga yang berada di Jawa (Semarang) juga dijalin dengan baik. Dalam arti, meskipun Dini sudah tinggal lama di luar negeri dan ketika pulang, dia tetap bisa akrab dengan keluarga. Dini sangat memperhatikan kepentingan keluarga, terutama keluarga yang berada di Jawa (Semarang) juga dijalin dengan baik. Dalam arti meskipun Dini sudah menjadi istri seorang diplomat, dia tetap perempuan yang bersahaja. Dia tetap menjalin hubungan baik dengan keluarganya. Bahkan, sesekali dia menyisihkan uang untuk keluarganya yang ada di Semarang.
Dari uaraian di atas dapat diketahui bahwa citra sosial Dini terbentuk dari hasil interaksinya dengan lingkungan sekitar. Ia mampu beradaptasi dengan lingkungan secara cepat. Sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus sebagai istri seorang diplomat, Dini mampu menjalankan tugas-tugasnya dengan baik. Sebagai seorang penulis pun ia mampu menjalani perannya dengan baik. Ia sukses menjalani semua perannya dengan baik meskipun ada beberapa hambatan yang didapat dari suaminya, Yves

Selanjutnya citra wanita  yang terungkap melalui tokoh utama adalah citra wanita dewasa yang berpikiran modern. Dini sebagai tokoh utama dalam novel ini digambarkan sebagai seorang wanita yang sanggup menjalankan dua fungsi sekaligus. Ia tidak saja berperan sebagai istri dan ibu yang baik bagi anaknya, tetapi juga dapat berperan sebagai seorang istri diplomat yang sanggup mendamping suaminya. Selain itu, Dini mempunyai peran yang lain, yaitu sebagai penulis karya sastra. Seni sastra adalah bidang yang digeluti hingga sekarang. Sebenarnya Dini juga tertarik pada bidang seni lainnya seperti seni drama dan seni tari, tetapi ia lebih eksis di dunia sastra.
            Kemampuan Dini menangani berbagai bidang inilah yang kadang-kadang membuat sang suami, Yves, menunjukkan sikap tidak sukanya pada sang isitri. Yves berharap Dini hanya mengurus rumah tangganya saja dan tidak yang lain. Oleh karena itu, untuk menyalurkan hobi menulisnya, Dini melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Jika hal ini diketahui oleh Yves, Dini disuruh mengerjakan pekarjaan rumah tangga. Dari hal tersebut tergambar sikap Yves yang cenderung memarjinalkan perempuan.
            Meskipun Yves selalu menunjukkan sikap tidak suka akan kelebihan yang dimiliki Dini ia tetap menunjukkan sikap patuhnya terhadap suami. Citranya sebagai wanita Jawa tetap ditunjukkan meskipun hatinya seringkali berontak terhadap perlakuan suaminya. Ia mampu bertahan terhadap sikap Yves yang tidak menyenangkan dan ia juga bertahan untuk tetap eksis di bidang tulis-menulis. Dini menunjukkan bahwa ia mampu menjadi wanita yang mendiri apapun rintangannya.

Simpulan
             Citra wanita  yang terungkap melalui tokoh utama adalah citra wanita dewasa yang berpikiran modern. Dini sebagai tokoh utama dalam novel ini digambarkan sebagai seorang wanita yang sanggup menjalankan dua fungsi sekaligus. Ia tidak saja berperan sebagai istri dan ibu yang baik bagi anaknya, tetapi juga dapat berperan sebagai seorang istri diplomat yang sanggup mendamping suaminya. Selain itu, Dini mempunyai peran yang lain, yaitu sebagai penulis karya sastra. Seni sastra adalah bidang yang digeluti hingga sekarang. Sebenarnya Dini juga tertarik pada bidang seni lainnya seperti seni drama dan seni tari, tetapi ia lebih eksis di dunia sastra.
            Kemampuan Dini menangani berbagai bidang inilah yang kadang-kadang membuat sang suami, Yves, menunjukkan sikap tidak sukanya pada sang isitri. Yves berharap Dini hanya mengurus rumah tangganya saja dan tidak yang lain. Oleh karena itu, untuk menyalurkan hobi menulisnya, Dini melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Jika hal ini diketahui oleh Yves, Dini disuruh mengerjakan pekarjaan rumah tangga. Dari hal tersebut tergambar sikap Yves yang cenderung memarjinalkan perempuan.
            Meskipun Yves selalu menunjukkan sikap tidak suka akan kelebihan yang dimilikinya, Dini tetap menunjukkan sikap patuhnya terhadap suami. Citranya sebagai wanita Jawa tetap ditunjukkan meskipun hatinya seringkali berontak terhadap perlakuan suaminya. Ia mampu bertahan terhadap sikap Yves yang tidak menyenangkan dan ia juga bertahan untuk tetap eksis di bidang tulis-menulis. Dini menunjukkan bahwa ia mampu menjadi wanita yang mendiri apapun rintangannya.


DAFTAR RUJUKAN
Dini, N.H. 2000. Jepun Negerinya Hiroko. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Djajanegara, Soenaryati. 2000. Kritik Sastra Feminisme Sebuah Pengantar.
        Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sofia, Adib dan Sugihastuti. 2003. Feminisme dan Sastra: Menguak Citra  
       Perempuan dalam Layar Terkembang. Bandung: Kartasis.

Sugihastuti dan Suharto. 2002. Kritik Sastra: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta:
        Pustaka Pelajar.
  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kamis, 26 Juli 2012

Analisis Citra

CITRA WANITA TOKOH UTAMA NOVEL JEPUN NEGERINYA HIROKO 
KARYA N.H. DINI

                                                               Oleh: Sri Widayati






   

  Pembahasan mengenai citra wanita dalam kesusastraan pada saat ini mendapat perhatian yang cukup besar. Pembicaraan tentang wanita sebagai salah satu anggota kelompok masyarakat merupakan kajian sastra yang cukup sering dibicarakan. Hal ini berkaitan dengan perubahan dalam memandang masalah ini sesuai perubahan nilai-nilai dan moralitas mereka yang memberi penilaian. Sekalipun nantinya terdapat perbedaan atau persepsi dalam penilaian, hal itu merupakan konsekuensi dari nilai-nilai yang dianut. Perkembangan atau perubahan nilai-nilai dalam masyarakat ini sedikit banyak menyebabkan perubahan dalam menampilkan tokoh-tokoh dalam karya sastra, khususnya tokoh wanita. Bagaimanapun juga karya sastra yang mencerminkan selera dan aspirasi  suatu kelompok masyarakat tertentu merupakan gejala yang selalu ada pada setiap zaman, sepanjang sejarah kesusasteraan. Gejala tersebut tentu saja dapat mengakibatkan perkembangan yang positif bagi dunia sastra.
Dalam analisis yang memfokuskan pada tokoh wanita, dipilih novel   Jepun Negerinya Hiroko. Novel yang menjadi objek kajian  ini ditulis oleh seorang pengarang wanita yaitu N.H. Dini.Untuk membahas masalah citra wanita pada novel tersebut dipergunakan kritik feminisme.
Kritik sastra feminisme merupakan studi sastra yang mengarah fokus analisis tentang perempuan (Sofia, 2003:23). Arti kritik sastra feminisme adalah sebuah kritik yang memandang sastra dengan kesadaran khusus akan adanya jenis kelamin yang berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan manusia. Jenis kelamin membuat perbedaan di antara semuanya, perbedaan di antara diri pencipta, pembaca, dan faktor luar penulisan dan pembaca sastra,
            Kritik sastra feminisme bukan berarti pengkritik perempuan, atau kritik tentang perempuan, juga bukanlah kritik tentang pengarang perempuan. Arti sederhana yang dikandungnya adalah pengkritik memandang sastra dengan kesadaran khusus, kesadaran bahwa ada jenis kelamin  yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan. Membaca sebagai perempuan berarti membaca dengan kesadaran membongkar praduga dan ideologi kekuasaan laki-laki yang androsentris atau patriarki. Perbedaan jenis kelamin pada diri pencipta, pembaca, unsur karya, dan faktor luar itulah yang memengaruhi situasi sistem komunikasi sastra. Penggunaan berbagai teori feminisme diharapkan mampu memberikan pandangan-pandangan baru, terutama yang berkaitan dengan bagaimana karakter-karakter yang diwakili dalam karya sastra.

 Citra Wanita Tokoh Utama Novel Jepun Negerinya Hiroko

Untuk mengetahui citra wanita pada novel  Jepun Negerinya Hiroko dipergunakan analisis kritik sastra feminis. Kata ’citra’ dalam analisis ini mengacu pada pengertian semua wujud gambaran mental sipritual dan tingkah laku keseharian wanita yang menunjukkan ’wajah’ dan ciri khas wanita (Sugihastuti, 2000:7).
            Pada point ini citra tokoh yang dibicarakan adalah citra tokoh utama, yaitu Dini. Hal ini dilakukan karena novel ini semacam diari dari tokoh aku (Dini). Sebagai diari, novel ini banyak mengungkapkan perjalanan hidup sang tokoh dalam mengarungi bahtera kehidupannya. Sang aku yaitu Dini banyak memaparkan perjalanan hidupnya setelah menikah dengan diplomat asing yang berasal dari Perancis. Liku-liku kehidupannya bersama suaminya, Yves Coffin, memberi gambaran yang jelas tentang citra dirinya sebagai seorang istri sekaligus sebagai seorang ibu.
Dalam analisis ini akan diuraikan citra wanita tokoh utama yang meliputi citra dalam aspek fisik dan aspek psikis. Begitu juga akan diuraikan citra sosial tokoh tersebut, terutama citranya dalam keluarga dan masyarakat

a.Citra Diri Dini
Secara fisik Dini dicitrakan sebagai seorang wanita dewasa dengan usia 24 tahun, dia seorang wanita yang telah siap untuk berumah tangga. Hal ini ditandai dengan kesiapannya untuk menikah dengan dilpomat asing dari Perancis yaitu Yves Coffin.Sebagai wanita dewasa,  Dini sudah mempunyai pemikiran yang matang tentang risiko perkawinannya dengan orang asing. Misalnya, risiko penanggalan kewarganegaraan Indonesianya dan mengikuti kewarganegaraan suaminya.  Risiko lain adalah jauh dari orang tua maupun sanak keluarganya.
Citra fisik lainnya yaitu, Dini memiliki warna kulit sawo matang seperti warna kulit bangsa Indonesia umumnya. Wajahnya selalu kelihatan berseri dan pakaian yang dikenakan  selalu cocok dengan bentuk tubuhnya. Postur tubuh, pada dasarnya tidak dideskripsikan secara rinci. Hanya dari tuturan Yves Coffin sebelum keberangkatan Dini untuk menyusul calon suaminya yang ditugaskan di Jepang, Yves sempat berpesan pada Dini untuk membeli celana panjang di Hongkong. Hal ini dikarenakan celana panjang yang dijual di Jepang banyak yang tidak sesuai dengan postur orang Indonesia umumnya. Artinya, perbandingan antara bagian tubuh atas dan bawah seringkali tidak proposional.     Mengenai wajah, secara implisit dapat dikatakan bahwa Dini seorang wanita yang cantik, menarik, dan memesona. Dikatakan demikian, karena seorang diplomat asing pasti memilih calon istri yang dapat mendampingi dirinya dalam berbagai acara. 
Aspek psikis wanita tidak dapat dipisahkan dari apa yang disebut feminitas. Prinsip feminitas ini oleh Yung (dalam Sugihastuti, 2000:95) disebut sebagai sesuatu yang merupakan kecenderungan yang ada dalam diri perempuan; prinsip-prinsip itu antara lain menyangkut ciri relatedness, receptivity, cinta kasih, mengasuh berbagai potensi hidup, orientasi komunal, dan memelihara hubungan interpersonal.
  Secara psikis, Dini dicitrakan sebagai sosok pribadi yang baik, cerdas, mempunyai pengetahuan yang luas, mempunyai hobi menulis, terutama menulis prosa. Hobi menulis ini yang kemudian melambungkan namanya sebagai penulis yang sangat produktif di Indonesia. Citra Dini inilah yang membuat seorang Yves, seorang diplomat asing tertarik dan kemudian memintanya untuk menikah dengannya. Dini tidak mungkin menjadi istri seorang diplomat seandainya dia tidak mempunyai kepribadian yang baik serta pengetahuan yang luas. Karena untuk menjadi istri seorang diplomat, Dini harus melewati beberapa tes yang dilakukan oleh konsul Perancis yang ada di Indonesia.
Dini lolos tes untuk menjadi calon istri seorang diplomat. Dia kemudian menyusul calon suaminya yang ditugaskan di Jepang dan kemudian menikah di sana. Pernikahannya dengan Yves, ternyata tidak seindah yang ia bayangkan karena Yves menunjukkan sifat-sifat kontradiktifnya.Yves yang pada masa berpacaran menunjukkan sikap yang baik dan  selalu memanjakan Dini, setelah menikah menunjukkan watak aslinya. Yves mempunyai sifat yang jelek seperti kemarahannya yang tiba-tiba dengan cara berteriak, sifat keras kepalanya untuk mengharapkan pujian dalam semua bidang. Bahkan, urusan masak-memasak dan urusan rumah tangga pun selalu ia campuri hingga detilnya (hl.9). Sebagai seorang wanita Jawa, Dini  dididik untuk tidak terlalu banyak bicara, apalagi membantah orang tua ataupun suami. Didikan ini tertanam begitu kuat sehingga ketika menghadapi sikap Yves yang sangat kontradiktif, Dini menerimanya dengan penuh kesabaran.  Dini sadar bahwa perkawinannya dengan Yves adalah kehendaknya sendiri sehingga ia harus menerima dan menjalani dengan penuh kerelaan.  
Citra Dini sebagai istri yang sabar dapat ditunjukkan pula dengan berbagai masalah yang dihadapi serta perlakuan-perlakuan yang tidak menyenangkan yang diperoleh dari Yves. Misalnya, ketika Dini mendapat musibah terjebak dalam lift salah satu supermarket di Jepang, Yves sama sekali tidak menunjukkan kekhawatirannya. Bahkan, Yves tidak bersyukur istrinya selamat, padahal saat itu Dini sedang mengandung anak pertama mereka. Ketidakpedulian Yves terhadap Dini tidak sebatas itu saja, tetapi juga saat- saat ada orang ketiga di antara mereka. Misalnya, ketika ada tamu atau orang yang hadir di tengah-tengah mereka maka perhatian Yves tercurah semuanya kepada orang tersebut. Sikap Yves yang demikian itu selalu dihadapi Dini dengan kesabaran yang luar biasa.
Meskipun Dini dicitrakan sebagai wanita yang penuh kesabaran, sesekali waktu kesabarannya juga teruji dengan peristiwa-peristiwa yang tidak dikehendaki. Selama mengandung Dini mencoba untuk membungkam dan menahan perasaan terhadap sikap-sikap Yves yang sering menyakitkan.  Namun, setelah dia melihat Yves pergi dengan wanita lain, dia tidak lagi mampu mempertahankan kesabarannya. Dini merasa baru kali itulah dia menderita kerisauan yng menindih dan sangat membebani dadanya. Sakit hati dan kemarahannya tidak terbendung lagi. Menghadapi kemarahan Dini, Yves hanya bersikap biasa saja. Yves sebagai suami tidak memahami perasaan seorang wanita, terutama perasaan Dini. Ketidasadarannya akan hal ini membuat Dini semakin sengsara. Peristiwa ini menyadarkan Dini bahwa pada dasarnya dia tidak bisa selamanya menjadi wanita yang tegar    
Sifat pelit yang dimiliki Yves juga merupakan masalah yang sangat menguji kesabaran Dini. Setiap akhir bulan, Yves selalu memeriksa buku pengeluaran belanja rumah tangga sehingga tidak mudah bagi Dini untuk membeli sesuatu yang baru. Saat anak mereka lahir dan memerlukan susu tambahan, Yves sangat keberatan karena susu tambahan yang mereka beli dirasa terlalu mahal. Untuk mengatasi hal itu, Dini terpaksa harus putar otak. Supaya gizi terpenuhi, Dini terpaksa meramu sendiri asupan untuk anaknya, Lintang. Tidak sampai di situ saja Dini terpaksa harus secara sembunyi-sembunyi membelikan susu untuk  Lintang. Hal  ini memperlihatkan bahwa Dini sebagai seorang ibu sangat bertanggung jawab. Ia tidak mau anaknya kurang gizi hanya karena Yves tidak mau membelikan susu. Akhirnya Dini melakukan  apa saja untuk kesehatan anaknya.
Perhatian Dini terhadap anaknya sebenarnya sudah dilakukan sejak anaknya dalam kandungan. Dini selalu mengajak berbincang-bincang meskipun sang anak belum lahir. Ternyata apa yang dilakukan Dini sangat berpengaruh terhadap sang anak di kemudian hari. Dalam usianya yang baru dua bulan, sang anak sudah pandai ’mengoceh’. Di sini terlihat citranya sebagai seorang ibu patut ditiru karena dia telah melakukan   pendidikan  sejak anak masih dalam kandungan.
Meskipun Dini sudah tinggal di Jepang, ia tidak pernah meninggalkan budaya Jawa. Misalnya, ia melaksanakan ’cande ala’ yaitu membawa atau mengajak anak masuk ke dalam rumah saat senja datang. Untuk hal yang berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan ritual yang dilakukan Dini, Yves tidak pernah mengkritik  Ritual Jawa yang juga masih dilakukan Dini adalah saat anaknya masih bayi yaitu dia selalu menyelipkan pisau lipat atau gunting kecil di bawah bantal atau sprei yang konon dipakai sebagai tambahan penjaga anak saat si anak ditinggal si ibu. Tradisi Jawa lainnya yang masih dijalani Dini adalah tedhak siti (turun ke tanah). Tedhak siti dilakukan Dini pada saat usia Lintang mencapai tujuh bulan. Jadi, saat itu Lintang diturunkan kemudian dia disuruh mengambil salah satu benda yang ditaruh di tanah. Menurut tradisi Jawa, barang yang diambil si anak akan menggambarkan sifat atau pekerjaan si anak di kemudian hari.
Membuat bubur merah dan putih yang juga merupakan tradisi Jawa masih sering dilakukan oleh Dini. Misalnya, setelah pernikahannya dengan Yves juga saat lintang lahir maupun saat Lintang tedhak siti. Beberapa tradisi jawa yang masih dilakukan Dini menunjukkan bahwa dia masih mempertahankan citranya sebagai orang Jawa meskipun dia tinggal di negri asing.
Sebagai istri seorang diplomat pada dasarnya Dini juga ingin berpenampilan menarik. Misalnya, dengan memakai pakaian atau asesoris yang menarik dan pantas, tetapi karena sifat pelit Yves, Dini terpaksa harus meminjam atau bertukar pakaian dengan Bu Miskun (istri diplomat yang juga bertugas di Jepang). Kondisi ini semakin memperjelas citra Dini sebagai istri yang nrimo. Usahanya untuk menegur  sikap Yves tidak pernah berhasil karena dengan orang di rumahnya, dia harus menang. Yves harus didengarkan dan diikuti pendapatnya.   
Dini tidak saja digambarkan sebagai istri dengan citra yang baik, tetapi juga   digambarkan  sebagai seorang wanita yang mempunyai citra seni yang tinggi. Dia tidak saja   mempunyai ketertarikan di bidang seni sastra, tetapi juga seni-seni yang lain seperti seni tari, seni drama. Bakatnya di bidang sastra tetap dikembangkan meskipun dia sudah berkeluarga. Beberapa novel sempat dibuatnya dengan berlatar Jepang, misalnya Namaku Hiroko. Novel tersebut terwujud berkat kepiawainnya di bidang tulis menulis. Dia juga menyukai seni drama dan seni tari. Di Jepang seringkali Dini menyempatkan diri menonton Kabuki yaitu sebuah pertunjukkan rakyat kuno yang kemudian digarap secara modern, namun tetap mempertahankan pakem tertentu. Kabuki  merupakan tontonan yang  semuanya dipentaskan oleh para aktor laki-laki.
Dini tidak saja tertarik pada dunia seni tari, bahkan dia mampu menari beberapa tarian Jawa. Pada suatu ketika secara spontan Dini diminta untuk menarikan tari lilin, permintaan itu sempat ditolaknya karena dia belum pernah menarikan tari itu. Namun, karena dipaksa, ia melakukannya juga.  Ternyata Dini mampu menarikan tari lilin dengan baik. Ini membuktikan bahwa Dini mempunyai apresiasi yang baik terhadap seni tari.
 Pernah pada pertunjukan amal, Dini menarikan tari Golek Lambangsari. Tarian tersebut oleh para konsul dan perwakilan  dagang asing maupun Jepang yang hadir pada saat itu ditaksir dengan harga tinggi. Kala itu banyak yang memuji tarian Golek Lambangsari yang dibawakan oleh Dini, tetapi tidak bagi Yves. Yves justru mengkritik dan tidak menyambutnya dengan baik seperti halnya orang lain.  Menghadapi sikap Yves yang demikian itu Dini tetap tabah dan sabar. Bahkan dengan sadar dia mengatakan bahwa maskipun Yves mempunyai banyak kekurangan, namun dia bukan lelaki yang jahat. Dia hanya menjengkelkan untuk diajak sealur dengan cara hidup yang disukainya. Dini justru beranggapan bahwa mungkin karena sifat-sifatnya yang terlalu peka sajalah maka dia belum menerima kebiasaan-kebiasaan Yves (hl. 293).
Meskipun Dini sudah mengklaim bahwa Yves bukan orang jahat, Yves di berbagai hal tetap tidak suka melihat kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh Dini. Bahkan dia tidak pernah mendukung kegiatan positif yang dilakukan oleh Dini. Misalnya, Dini harus sembunyi-sembunyi untuk melakukan kegiatan kreatifnya yaitu menulis novel. Misalnya, Namaku Hiroko adalah novel yang ditulis oleh  Dini saat-saat Yves berada di kantor. Bahkan, Dini harus berpura-pura sakit supaya dia mempunyai kesempatan  yang banyak untuk menulis.Yves tidak pernah membiarkan Dini mempunyai waktu luang untuk menulis. Bahkan, Dini pernah merasa terhina ketika Yves mengatakan bahwa tulisannya tidak dapat dijual. Dini pun sadar bahwa Yves secara tidak langsung telah menekan kegiatan intelektual yang dilakukannya. Perlakuan Yves yang selalu mengecilkan eksistensi Dini, dihadapi  Dini dengan penuh kesabaran.
            Dini dicitrakan juga sebagai wanita yang tidak pernah mau diam. Dia selalu mengisi waktu luangnya dengan berbagai kegiatan. Dini mengatakan bahwa waktu luangnya banyak digunakan untuk menyerap semua pengalaman dan pengetahuan yang tersaji. Hal-hal yang dilakukannya antara lain: membaca, menonton film, menelusuri kota Kobe dengan cara naik bis, naik trem, atau berjalan kaki. Oleh karena itu, pengetahuannya tentang kota Kobe melebihi suaminya. Ia juga belajar bahasa Jepang. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, dia sudah mampu berbicara dengan bahasa itu. Hal ini menandakan bahwa Dini mempunyai citra sebagai wanita yang cerdas.
            Kegiatan lain yang dilakukan Dini adalah belajar merangkai bunga (ikebana). Dengan kepekaannya, dia mampu menyerap secara cepat prinsip-prinsipyang ada pada seni ikebana. Belajar memasak makanan Perancis, belajar menngunakan mesin jahit, menyulam juga merupakan kegiatan yang dilakukan saat-saat menunggu kelahiran anak pertamanya. Menulis novel adalah kegiatan yang tidak pernah ia tinggalkan. Hal ini ia lakukan untuk menunjukkan kepada orang-orang Indonesia bahwa meskipun sudah tinggal jauh, ia masih eksis di dunia itu
Dari  penjelasan  mengenai aspek fisik dan psikis di atas maka dapat diperoleh citra Dini sebagai berikut. Ditinjau dari aspek fisik, Dini adalah wanita yang aktif dan dinamis.  Ia seorang wanita yang cantik . Kecantikan Dini inilah yang membuat Yves kemudian menikahinya. Kemudian secara psikis, Dini seorang wanita yang cerdas, pandai, sabar, dan tabah. Kecerdasan dan kepandaian yang dimiliki Dini mendorongya untuk menjadi penulis karya sastra yang terkenal sampai saat ini. Namun, kepandaian ini yang kadang-kadang membuat Yves menjadi iri. Rasa iri Yves terhadap Dini sering dirtunjukan dengan sikap Yves yang menyakitkan. Dengan kesabaran luar biasa Dini menghadapi itu semua.

b. Citra Sosial Dini
Kecerdasan serta kemampuan Dini dalam berbagai bidang menuntunnya ke pergaulan yang luas. Kemampuannya menulis sastra, misalnya, mendekatkan dirinya kepada nama-nama yang tidak asing di negeri ini, seperti H.B. Jassin, Ayip Rosidi. H.B. Jassin dikenal sebagai kritikus sastra Indonesia, sedangkan Ayip Rosidi adalah sastrawan Indonesia. Sebagai sesama orang yang bergerak di bidang sastra, Dini mampu menjalin hubungan yang baik dengan mereka. Bahkan, ketika Dini sudah tidak lagi tinggal di Indonesia, hubungan dengan sesama sastrawan masih tetap berlanjut melalui surat.
Tidak terputusnya hubungan Dini dengan H.B. Jassin atau Ayip Rosidi dikarenakan dia tetap meneruskan aktivitasnya sebagai seorang penulis. Meskipun kegiatan ini tidak didukung oleh suaminya, Yves, Dini tetap jalan terus dan pantang mundur. Namaku Hiroko adalah salah satu novel dari Dini yang cukup terkenal yang ditulisnya dengan cara sembunyi-sembunyi.
 Lingkungan baru, tidak membuat Dini menjadi asing karena dia mampu beradaptasi secara cepat, baik dengan lingkungan masyarakat maupun lingkungan alam.Dini tidak saja mampu menjalin hubungan baik dengan orang-orang Indonesia, tetapi juga dengan orang-orang di lingkugan barunya yaitu  orang-orang Jepang. Bahkan, ada wanita Jepang  yang begitu dekat sehingga sangat spesial bagi Dini, dialah Hiroko. Perjalanan hidup Hiroko kemudian menjadi sumber inspirasinya, bahkan dia dijadikan tokoh utama untuk novelnya yang berjudul Namaku Hiroko. Selain Hiroko, Dini menjalin keakraban yang luar biasa dengan Mireille, wanita asal Pulau Korsika. Bagi Dini, Mireille adalah sahabat seumur hidupnya.    
Dini juga menjalin hubungan yang baik dengan para istri diplomat Indonesia yang bertugas di Jepang yang di antaranya adalah Mbakyu Miskun dan Tante Un. Mereka berdua juga sahabat Dini yang begitu dekat. Karena begitu dekat, Dini tidak segan   melakukan persetujuan untuk saling meminjamkan pakaian, sepatu, dan sandal dengan Mbakyu Miskun. Perjanjian ini dilakukan Dini karena sebagai  istri seorang diplomat, dia  ingin berpenampilan baik dan menarik.Untuk berpenampilan selalu menarik diperlukan uang yang banyak dan Dini tidak pernah diberi uang lebih oleh Yves. Uang yang diberikan oleh Yves hanya cukup untuk makan saja. Kepelitan Yves diketahui oleh sahabat-sahabatnya sehingga mereka mau membantu Dini.
Dini perlu selalu berpenampilan menarik saat dirinya ditunjuk untuk menggantikan posisi isti konsul yang akan bepergian ke Eropa. Sebagai istri diplomat, Dini mampu melaksanakan kewajiban sosial yang diberikan oleh seorang isti konsul yang pergi untuk waktu yang tidak ditentukan. Kewajiban yang harus dilaksanakan adalah mengunjugi rumah-rumah yatim piatu, panti jompo, yang ada hubungannya dengan pemerintah Perancis. Pekerjaan ini dapat dikerjakan Dini dengan baik karena dia mampu dengan cepat melakukan pendekatan-pendekatan dengan lingkungannya.    
Tante Un juga merupakan sahabat Dini yang sangat dekat. Dini tidak segan-segan menitipkan anaknya untuk beberapa hari pada Tante Un saat dia pergi jauh. Untuk  kebaikan sahabat-sahabatnya itu, Dini tidak pernah lupa untuk  membawakan bingkisan. Di sisi lain, ada beberapa orang yang tidak bisa dekat dengan dirinya. Misalnya, wanita yang di mata Dini terlalu menonjolkan segi materinya atau orang yang  di mata Dini tidak pernah membalas kebaikan orang lain.  
Dari uraian di atas tergambar citranya sebagai wanita yang pandai berterima kasih, pandai bergaul, dan pandai memahami orang lain. Namun,  kebaikan Dini kadang-kadang dimanfaatkan oleh orang lain, seperti yang dilakukan oleh seorang temannya di Bukit Tinggi  yang tanpa seizin Dini telah memproses pencetakan Hati Yang Damai, sebuah karya yang ditulis Dini saat dirinya masih remaja. Harga dirinya merasa diinjak-injak saat orang yang menerbitkan buku itu mengatakan bahwa justru Dinilah yang harus berterima kasih kepadanya. Penerbitan buku itu bagi Dini justru tidak memberikan kedamaian bagi dirinya karena dia sudah merasa terlangkahi. Hak-haknya sebagai penulis seolah-olah diabaikan.
Hubungan Dini dengan lingkungan keluarga, terutama kelurga yang berada di Jawa (Semarang) juga dijalin dengan baik. Dalam arti, meskipun Dini sudah tinggal lama di luar negeri dan ketika pulang, dia tetap bisa akrab dengan keluarga. Dini sangat memperhatikan kepentingan keluarga, terutama keluarga yang berada di Jawa (Semarang) juga dijalin dengan baik. Dalam arti meskipun Dini sudah menjadi istri seorang diplomat, dia tetap perempuan yang bersahaja. Dia tetap menjalin hubungan baik dengan keluarganya. Bahkan, sesekali dia menyisihkan uang untuk keluarganya yang ada di Semarang.
Dari uaraian di atas dapat diketahui bahwa citra sosial Dini terbentuk dari hasil interaksinya dengan lingkungan sekitar. Ia mampu beradaptasi dengan lingkungan secara cepat. Sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus sebagai istri seorang diplomat, Dini mampu menjalankan tugas-tugasnya dengan baik. Sebagai seorang penulis pun ia mampu menjalani perannya dengan baik. Ia sukses menjalani semua perannya dengan baik meskipun ada beberapa hambatan yang didapat dari suaminya, Yves

Selanjutnya citra wanita  yang terungkap melalui tokoh utama adalah citra wanita dewasa yang berpikiran modern. Dini sebagai tokoh utama dalam novel ini digambarkan sebagai seorang wanita yang sanggup menjalankan dua fungsi sekaligus. Ia tidak saja berperan sebagai istri dan ibu yang baik bagi anaknya, tetapi juga dapat berperan sebagai seorang istri diplomat yang sanggup mendamping suaminya. Selain itu, Dini mempunyai peran yang lain, yaitu sebagai penulis karya sastra. Seni sastra adalah bidang yang digeluti hingga sekarang. Sebenarnya Dini juga tertarik pada bidang seni lainnya seperti seni drama dan seni tari, tetapi ia lebih eksis di dunia sastra.
            Kemampuan Dini menangani berbagai bidang inilah yang kadang-kadang membuat sang suami, Yves, menunjukkan sikap tidak sukanya pada sang isitri. Yves berharap Dini hanya mengurus rumah tangganya saja dan tidak yang lain. Oleh karena itu, untuk menyalurkan hobi menulisnya, Dini melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Jika hal ini diketahui oleh Yves, Dini disuruh mengerjakan pekarjaan rumah tangga. Dari hal tersebut tergambar sikap Yves yang cenderung memarjinalkan perempuan.
            Meskipun Yves selalu menunjukkan sikap tidak suka akan kelebihan yang dimiliki Dini ia tetap menunjukkan sikap patuhnya terhadap suami. Citranya sebagai wanita Jawa tetap ditunjukkan meskipun hatinya seringkali berontak terhadap perlakuan suaminya. Ia mampu bertahan terhadap sikap Yves yang tidak menyenangkan dan ia juga bertahan untuk tetap eksis di bidang tulis-menulis. Dini menunjukkan bahwa ia mampu menjadi wanita yang mendiri apapun rintangannya.

Simpulan
             Citra wanita  yang terungkap melalui tokoh utama adalah citra wanita dewasa yang berpikiran modern. Dini sebagai tokoh utama dalam novel ini digambarkan sebagai seorang wanita yang sanggup menjalankan dua fungsi sekaligus. Ia tidak saja berperan sebagai istri dan ibu yang baik bagi anaknya, tetapi juga dapat berperan sebagai seorang istri diplomat yang sanggup mendamping suaminya. Selain itu, Dini mempunyai peran yang lain, yaitu sebagai penulis karya sastra. Seni sastra adalah bidang yang digeluti hingga sekarang. Sebenarnya Dini juga tertarik pada bidang seni lainnya seperti seni drama dan seni tari, tetapi ia lebih eksis di dunia sastra.
            Kemampuan Dini menangani berbagai bidang inilah yang kadang-kadang membuat sang suami, Yves, menunjukkan sikap tidak sukanya pada sang isitri. Yves berharap Dini hanya mengurus rumah tangganya saja dan tidak yang lain. Oleh karena itu, untuk menyalurkan hobi menulisnya, Dini melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Jika hal ini diketahui oleh Yves, Dini disuruh mengerjakan pekarjaan rumah tangga. Dari hal tersebut tergambar sikap Yves yang cenderung memarjinalkan perempuan.
            Meskipun Yves selalu menunjukkan sikap tidak suka akan kelebihan yang dimilikinya, Dini tetap menunjukkan sikap patuhnya terhadap suami. Citranya sebagai wanita Jawa tetap ditunjukkan meskipun hatinya seringkali berontak terhadap perlakuan suaminya. Ia mampu bertahan terhadap sikap Yves yang tidak menyenangkan dan ia juga bertahan untuk tetap eksis di bidang tulis-menulis. Dini menunjukkan bahwa ia mampu menjadi wanita yang mendiri apapun rintangannya.


DAFTAR RUJUKAN
Dini, N.H. 2000. Jepun Negerinya Hiroko. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Djajanegara, Soenaryati. 2000. Kritik Sastra Feminisme Sebuah Pengantar.
        Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sofia, Adib dan Sugihastuti. 2003. Feminisme dan Sastra: Menguak Citra  
       Perempuan dalam Layar Terkembang. Bandung: Kartasis.

Sugihastuti dan Suharto. 2002. Kritik Sastra: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta:
        Pustaka Pelajar.
  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Copyright 2011
Rumah Makna

Powered by
Free Blogger Templates